Hidup dalam diam

14 Januari 2012

“rasanya hanya ingin hujan turun

deras……

hingga ku tak perlu mendengarmu,

kemudian

memaksaku melafalkan namanya

hingga terngiang memenuhi kepalaku”

penguat hati yang tak terdefenisikan

di dunia realitas ini, rasanya ingin teriak dan tersungkur

kemudian berteman tangis lirih

menambah sendu hitam langit malam

ku hanya ingin menjadi diriku,menjadi apa yang ku mau

tanpa harus takut apa yang akan mereka katakan

bebas melakukan apa yang ku mau,apa yang ada dalam isi batok kepalaku

tapi ku tahu siapa aku

ku akan memilih diam tanpa satu katapun

ketika kepastian hati semakin tegas memilih tempatnya

sendiri,tidakkah kau pahami makna gelisahku

makna ketakutanku

berhadapan dengan tatap mata mereka

yang seolah mengintimidasi kehadiranku

mungkin benar katamu sobat

ku memang tak pernah memikirkan rasaku sendiri,

selalu memikirkan dan mendahulukan rasa orang lain,

ku tak ingin melukai mereka,

karna luka yang sama mungkin pernah menghampiriku

tinggal bersamaku,menyelimutiku,merampas o2ku.

kataku lirih

iya,benar

tapi smpai kapan?

apakah kau tak ber hak bahagia?

ku tersandung

tak tahu harus melakukan apa

tak mungkin berbalik

mungkinkah akan ku hancurkan tembok ini dan melanjutkan langkahku

ataukah ku memilih berbelok,mengambil rute lain

kanan ataukah kiri?

entahlah……………..
~saat ia tersesat,maka hatiku kan memilih berjalan dalam diam,mengikuti cahayaNya di ujung jalan~

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: